Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal <p>The Pistis Journal was first published in 2001 with a frequency of twice a year (December and June) by the Evangelical Theological Seminary Indonesia (STTII) in Yogyakarta. Jalan Solo KM 11 PO BOX 4/YKAP Yogyakarta 55571 (0274-496257); Email: jurnal.pistis@sttii-yogyakarta.ac.id</p> Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta en-US Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika 1412-9388 <p><strong>You are free to:</strong><br />Share — copy and redistribute the material in any medium or format<br />Adapt — remix, transform, and build upon the material<br />for any purpose, even commercially.<br />The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.</p> <p><strong>Under the following terms:</strong><br />Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.</p> Reformasi Hati: Dari Kejatuhan Daud Menuju Pemulihan Berdasarkan Mazmur 51 https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal/article/view/221 <p>Kajian ini bertujuan untuk menelusuri makna reformasi hati sebagai bentuk pembaruan karakter rohani yang berakar pada pengalaman pertobatan Raja Daud sebagaimana tercatat dalam Mazmur 51. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada aspek devosional, etis, atau moral, namun belum mengkaji reformasi hati sebagai paradigma teologis untuk pembentukan karakter. Berdasarkan metode penelitian hermeneutik-teologi, maka tiga temuan penting yang didapat adalah: Pertama, reformasi hati merupakan inti dari pembentukan karakter rohani yang sejati; reformasi dimulai dari kesadaran dosa dan kebutuhan akan anugerah Allah yang mengubah hati manusia. Kedua, pertobatan sejati melahirkan transformasi karakter yang berakar pada kemurnian hati, kerendahan diri, dan ketaatan etis yang dimampukan oleh karya Roh Kudus. Ketiga, reformasi hati harus menjadi paradigma bagi gereja masa kini dalam membentuk karakter umat, dengan menekankan pembaruan rohani dan moral yang berkelanjutan melalui pertobatan, disiplin rohani, dan penyerahan diri kepada Allah. Dengan demikian, reformasi hati berfungsi sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter Kristen yang berintegritas dan berdampak transformasional dalam kehidupan pribadi maupun komunitas iman.</p> Keren Samar Imleda Cicilia Salakay Debby Margareth Taihuttu Aska Aprilano Pattinaja Copyright (c) 2025 Keren Samar, Imleda Cicilia Salakay, Debby Margareth Taihuttu, Aska Aprilano Pattinaja https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-12-29 2025-12-29 25 2 70 84 10.51591/pst.v25i2.221 Pelayanan Bivokasional Sebagai Integrasi Vokasi dan Misi: Kajian Teologis dalam Relevansinya dengan Gereja di Indonesia https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal/article/view/216 <p>Pelayanan bivokasional suatu model pelayanan di mana seorang hamba Tuhan melakukan pelayanannya sambil melakukan pekerjaan sekuler untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan menemukan bahwa pelayanan bivokasional memiliki dasar teologi yang kuat seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus, yang dapat dipahami sebagai integrasi vokasi dan misi. Dalam konteks gereja di Indonesia, model pelayanan ini relevan dengan realitas yang ada yaitu terdapat kesenjangan ekonomi yang menyebabkan gereja tidak mampu memberi upah yang layak bagi pelayan di sana. Berdasarkan Badan Pusat Statistik 2025, masih terdapat banyak daerah yang memiliki pendapatan per kapita rendah yang dapat berpengaruh pada stabilitas finansial gereja lokal. Dengan demikian, pelayanan bivokasional tidak hanya dapat menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan finansial, tetapi juga strategi pelayanan yang kontekstual, realistis dan memiliki dasar teologis yang sah.</p> Triesa Zefania Yonathan Efron Petty Copyright (c) 2025 Triesa Zefania Yonathan, Efron Petty https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-12-29 2025-12-29 25 2 85 97 10.51591/pst.v25i2.216 Dekonstruksi Eksklusivisme Misi: Pembacaan Kritis Yunus 4 dalam Kerangka Universalitas Kasih Allah https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal/article/view/219 <p>Penelitian ini mengkaji Yunus 4 sebagai narasi yang memperlihatkan kontras tajam antara respons emosional Yunus dan karakter Allah yang berbelas kasih, sehingga menegaskan universalitas kasih Allah yang melampaui batas identitas Israel. Melalui eksegesis naratif dan analisis istilah kunci dalam teks Ibrani, penelitian ini menunjukkan bagaimana struktur, ironi leksikal, dan progresi dialog dalam pasal tersebut menghadirkan kritik internal terhadap orientasi eksklusif yang tampak dalam sikap Yunus. Tujuan penelitian ini ialah mengembangkan pemahaman teologis yang berakar pada karakter Allah sebagai dasar bagi kerangka missio Dei yang menempatkan Allah sebagai subjek utama pengutusan. Analisis yang dilakukan memperlihatkan bahwa Yunus 4 menyajikan gambaran teologis yang konsisten mengenai keluasan belas kasih Allah dan menantang kecenderungan manusia membatasi penerapannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa natur kasih Allah yang universal menyediakan fondasi bagi orientasi misi yang bersifat inklusif, dialogis, dan memulihkan.</p> Priskilla Jessika Ohoitimur Echang Jhonatan Septianus Copyright (c) 2025 Priskilla Jessika Ohoitimur, Echang Jhonatan Septianus https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-12-29 2025-12-29 25 2 98 111 10.51591/pst.v25i2.219 Kesetiaan Profetik Sebagai Konstruksi Teologis Dalam Yeremia 25:1-7: Suatu Analisis Eksegetis-Teologis https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal/article/view/211 <p>Yeremia 25:1-7 menghadirkan kesetiaan profetik dalam konteks penolakan umat dan krisis kovenantal Yehuda menjelang pembuangan Babel. Meskipun demikian, pembacaan terhadap perikop ini kerap berhenti pada analisis historis, tekstual, atau simbolik secara terpisah, sehingga kesetiaan profetik belum dirumuskan secara teologis dari teks itu sendiri. Permasalahan penelitian ini terletak pada absennya sintesis eksegetis-teologis yang menjelaskan hakikat kesetiaan profetik dalam relasi antara firman Allah dan ketaatan nabi. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan merumuskan kesetiaan profetik sebagai tindakan teologis relasional dan kovenantal, bukan sebagai kualitas moral atau indikator keberhasilan pewartaan. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi pemahaman teologis kesetiaan profetik dalam Yeremia 25:1-7 melalui pendekatan eksegetis-teologis terhadap teks <em>WTT Leningrad</em>, dengan analisis filologis, struktural, dan historis. Hasil analisis menunjukkan bahwa kontinuitas pewartaan Yeremia selama dua puluh tiga tahun menegaskan kesetiaan profetik sebagai partisipasi dalam kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya, yang dipahami secara deskriptif dalam horizon tradisi kenabian Israel.</p> Rolan Edwar Tampubolon Copyright (c) 2025 Rolan Edwar Tampubolon https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-12-29 2025-12-29 25 2 112 123 10.51591/pst.v25i2.211 Model Kepemimpinan Kolaboratif Berdasarkan 1 Korintus 12:12-31 dalam Organisasi Gereja https://pistis.sttii-yogyakarta.ac.id/index.php/jurnal/article/view/208 <p>Pesatnya perkembangan teknologi di era digital menuntut gereja untuk menyesuaikan pola kepemimpinannya. Gereja tidak lagi dapat bergantung pada model kepemimpinan yang terpusat pada satu figur pemimpin (individu), melainkan perlu mengadopsi pola kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan seluruh bidang dan antar anggota jemaat. Prinsip kolaborasi ini sejalan dengan gambaran gereja sebagai satu tubuh dengan anggota yang beragam namun saling melengkapi sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 12:12-31. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis model kepemimpinan kolaboratif, yang dapat diterapkan dalam organisasi gereja masa kini. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjuk tiga temuan utama: (1) kolaborasi lintas generasi terbukti meningkatkan efektivitas perencanaan dan pelaksanaan pelayanan; (2) memperkuat kesatuan tubuh Kristus dan inovasi kepemimpinan, terutama melalui pemanfaatan media digital; dan (3) mampu memperluas jangkauan serta relevansi pelayanan gereja di tengah dinamika zaman. Implikasi dari temuan tersebut menegaskan bahwa gereja perlu membangun budaya kerja sama yang kuat, memperkuat kapasitas pemimpin dalam menghadapi perubahan, serta mengembangkan strategi adaptif yang tetap berakar pada prinsip-prinsip teologis yang mendasari kehidupan bergereja.</p> Toni Toni Yeheskiel Yeheskiel Copyright (c) 2025 Toni Toni, Yeheskiel Yeheskiel https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2025-12-29 2025-12-29 25 2 124 135 10.51591/pst.v25i2.208